Tolikara – Di sebuah jembatan gantung yang membentang di tengah hijaunya perbukitan Papua Pegunungan, langkah-langkah rombongan pemerintah berjalan perlahan. Di ujung sana, masyarakat telah menunggu—bukan sekadar menyambut, tetapi menitipkan harapan.
Safari Pembangunan Wilayah V yang digelar Pemerintah Kabupaten Tolikara bukan hanya agenda kerja. Ia menjelma menjadi perjalanan menyapa, mendengar, dan merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat di kampung-kampung, dari Distrik Wari hingga Distrik Dou.
Di setiap titik yang disinggahi, wajah-wajah penuh harap tampak jelas. Anak-anak berseragam sekolah berbaris rapi, sebagian tanpa alas kaki, menyambut bantuan perlengkapan belajar. Di sudut lain, para ibu menggenggam erat program pelatihan yang diharapkan bisa menguatkan ekonomi keluarga mereka.
Pemerintah tidak datang dengan janji semata. Program nyata dibawa langsung ke masyarakat—mulai dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk mencegah stunting, sarapan sehat bagi anak sekolah, hingga perhatian terhadap pendidikan dari PAUD sampai SMA.
Di ruang-ruang kelas sederhana itu, harapan tentang masa depan Tolikara seperti tumbuh perlahan.
Tak jauh dari sana, kehidupan kampung juga berdenyut lewat potensi lokal. Sagu, yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat, diangkat menjadi simbol ketahanan pangan melalui festival olahan lokal. Sebuah pesan sederhana namun kuat—bahwa kemandirian bisa lahir dari tanah sendiri.
Safari ini juga menyentuh sisi spiritual masyarakat. Dalam kebersamaan ibadah, pemerintah dan warga berdiri tanpa sekat, memperkuat nilai kebersamaan dan iman. Dukungan terhadap pembangunan Gereja Elshaday Dou pun menjadi bagian dari komitmen tersebut, dengan dana yang telah terkumpul mencapai Rp660 juta.
Sementara itu, di lapangan terbuka, tawa para pemuda pecah saat menerima bantuan sarana olahraga. Di balik bola dan perlengkapan sederhana itu, tersimpan harapan agar generasi muda Tolikara tumbuh dengan semangat, disiplin, dan arah yang jelas.
Bagi Pemerintah Kabupaten Tolikara, safari pembangunan ini bukan sekadar kunjungan. Ini adalah cara memastikan bahwa negara benar-benar hadir—menyentuh, mendengar, dan bekerja bersama rakyat.
“Pemerintah hadir bukan hanya melihat, tetapi bekerja dan mendengar langsung kebutuhan masyarakat,” menjadi pesan yang terus digaungkan dalam setiap langkah kegiatan.
Dari kampung-kampung inilah, Tolikara perlahan dibangun. Bukan hanya dengan program, tetapi dengan kehadiran, kepedulian, dan harapan yang dirawat bersama.
Dan di setiap langkah safari itu, satu keyakinan terus tumbuh Tolikara tidak berjalan sendiri. Ia bangkit bersama rakyatnya.



