SIDRAP – Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus memperkuat perannya sebagai pusat produksi telur di kawasan timur Indonesia. Upaya ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta memperluas pasar komoditas pangan unggulan daerah.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menyampaikan bahwa setelah empat bulan menjabat sebagai bupati, dirinya juga dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum Asosiasi Kepala Daerah se-Indonesia bidang pangan dari total 514 daerah. Melalui posisi tersebut, ia aktif mempromosikan potensi pangan Sidrap, khususnya beras dan telur ayam, sekaligus memperkuat kerja sama antar daerah melalui konsep Kerja Sama Antar Daerah (KAD).
“Sidrap tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil beras, tetapi juga sebagai lumbung telur yang menyuplai kebutuhan berbagai daerah di Indonesia. Kami ingin memastikan sektor pangan ini memberi manfaat bagi semua pihak, mulai dari peternak, pedagang, hingga industri yang menggunakan telur sebagai bahan baku,” ujar Syaharuddin.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan saat Bupati menghadiri pertemuan bersama para peternak dan pedagang telur di lokasi PT Cahaya Tiga Putri Mario, Kecamatan Kulo, Jumat (13/3/2026). Pertemuan ini juga dihadiri anggota DPRD Sidrap dari Komisi II.
Dalam pertemuan itu dibahas berbagai strategi penguatan sektor peternakan ayam petelur, mulai dari stabilitas harga, peningkatan populasi ayam, hingga perluasan pasar ke luar daerah.
Saat ini populasi ayam petelur di Sidrap tercatat sekitar 5.117.000 ekor. Pemerintah daerah menargetkan peningkatan populasi menjadi 6,5 juta ekor pada tahun 2026 sebagai langkah awal menuju target besar 10 juta ekor ayam petelur dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk menjaga stabilitas pasar, para pedagang dan peternak secara rutin menggelar pertemuan setiap malam Rabu dan malam Sabtu guna menentukan harga telur secara bersama berdasarkan kesepakatan. Dalam pertemuan terakhir, harga telur disepakati sebesar Rp53 ribu per rak.
Langkah ini dinilai efektif menjaga keseimbangan harga agar tetap menguntungkan semua pihak, sekaligus memberikan kepastian pasar bagi peternak.
Permintaan telur dari luar daerah juga terus meningkat. Sejumlah wilayah seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur mulai menjadikan Sidrap sebagai salah satu pemasok utama kebutuhan telur.
Selain itu, peluang pasar juga terbuka dari program makan bergizi nasional yang menghadirkan sekitar 820 dapur di Sulawesi Selatan dengan total anggaran sekitar Rp2,7 triliun per tahun. Program tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 24 juta butir telur setiap bulan dengan nilai perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp43 miliar per bulan atau Rp518 miliar per tahun.
Pemerintah Kabupaten Sidrap menargetkan sekitar 60 persen kebutuhan telur dari program tersebut dapat dipenuhi oleh peternak lokal, atau sekitar Rp300 miliar per tahun.
Untuk memperkuat sektor peternakan, pemerintah daerah juga mendorong akses pembiayaan bagi peternak melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sehingga peternak kecil dan menengah dapat meningkatkan kapasitas produksi serta memperbaiki manajemen usaha.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, peternak, pedagang, serta dukungan pasar yang terus berkembang, Sidrap optimistis dapat mempertahankan sekaligus memperkuat posisinya sebagai lumbung telur nasional.
Sektor ini juga diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah, dengan target pertumbuhan ekonomi hingga 10 persen, tertinggi di kawasan Indonesia Timur.
Jika Anda ingin, saya juga bisa buatkan versi yang lebih kuat untuk rilis media nasional atau gaya “headline tajam” agar lebih mudah dimuat media besar.



