Perhelatan Tudang Sipulung yg digelar Pemerintahan Sarkanaah pada Kamis 12 Februari 2026 di Taman Kota Monumen Ganggawa dan dihadiri sejumlah pihak bisa dibaca sebagai upaya membumikan kearifan lokal masyarakat Sidrap. Sebuah 'local genius' yang hidup dalam rentetan kesejarahan Sidrap bertumbuh dan membangun sampai saat ini.
Tudang Sipulung, yang didesakkan Nene Mallomo-La Pagala-To Accana Sidenreng pada abad XV Masehi untuk kepentingan kemanusiaan dan kehidupan masyarakat. Sebuah pertemuan warga yang digagas dan digerakkan untuk tujuan mengatur dan membangun kesepahaman tentang tata kelola pertanian yang baik dan berterima secara kolektif.
Dalam perspektif Nene Mallomo, Tudung Sipulang digelar sebagai ruang komunikasi dan solusi untuk menyatukan keputusan terkait penentuan waktu turun sawah dan bertanam, pengaturan air irigasi dan pembagian kerja, antisipasi terhadap hama/penyakit dan langkah kolektif. Termasuk pemilihan dan penyepakatan terhadap varietas dan teknik budidaya agar tidak tabrakan antarpetani.
Dalam konteks kekinian, Bupati SAR memotret dinamika tata kelola pertanian yang dipraktikkan Nene Mallomo pada masanya sebagai praktik baik yang mesti dihidupkan. Bupati SAR memandang bahwa modernitas pertanian saat ini sejatinya tidak boleh abai terhadap 'local genius' yg terbukti berhasil. Spirit 'tanam, panen, hilirisasi ke depan akan kita gencarkan dengan mengaktifkan kembali kearifan lokal masyarakat Sidrap melalui forum 'Tudang Sipulung' pemerintah dan masyarakat Sidrap.
#SaromaseSidenrengRappang.



