RAPPANG,LINTASNEWS7.COM - Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Aswagino Ambo Asse, tengah menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang). Ia mengangkat kepemimpinan Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif sebagai objek penelitian tesisnya.
Aswagino mempresentasikan proposal tesisnya dalam seminar proposal yang digelar di Lantai 2 Gedung Rektorat UMS Rappang, Kamis (8/10/2026). Seminar tersebut dihadiri dosen pembimbing, penguji, serta sejumlah mahasiswa pascasarjana.
Dalam seminar tersebut, Aswagino mengangkat judul tesis "Transformasi Kepemimpinan Politik ke Kepemimpinan Publik Pasca Pilkada 2024: Studi Fenomenologi atas Kepemimpinan Syaharuddin Alrif di Kabupaten Sidenreng Rappang."
Proposal tesis itu dibahas bersama dosen pembimbing Assoc. Prof. Dr. Ir. H.M. Rais Rahmat Razak, M.Si., dan dosen penguji Dr. Erfina, S.Sos., M.Si.
Aswagino menjelaskan penelitian tersebut berangkat dari fenomena perubahan peran Syaharuddin Alrif, yang sebelumnya dikenal sebagai aktor politik dan kemudian terpilih sebagai Bupati Sidrap.
"Penelitian ini memusatkan perhatian pada pengalaman Syaharuddin Alrif dan pengalaman para aktor yang berinteraksi dengan beliau dalam konteks pemerintahan," kata Aswagino dalam pemaparannya.
Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara kepemimpinan politik dan kepemimpinan publik. Ketika masih menjadi aktor politik, seorang pemimpin memiliki basis konstituen dan bekerja dalam lingkungan politik. Namun, setelah memperoleh mandat sebagai kepala daerah, tanggung jawabnya meluas kepada seluruh masyarakat.
"Beliau (Syaharuddin Alrif) berangkat dari kepemimpinan politik sebagai aktor di lembaga politik, kemudian beralih setelah terpilih sebagai Bupati Sidrap untuk bertransformasi ke kepemimpinan publik," jelasnya.
Aswagino menyebut perubahan tersebut menarik untuk dikaji karena kepala daerah tidak lagi hanya bekerja untuk kelompok atau konstituen tertentu. Seorang kepala daerah dituntut membangun hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari birokrasi pemerintahan, DPRD, lembaga kemasyarakatan hingga masyarakat secara umum.
"Setelah menjadi pejabat publik, beliau bertugas untuk kepentingan seluruh masyarakat, bukan lagi hanya terkait dengan konstituennya," ujarnya.
Dalam penelitian tersebut, Aswagino merumuskan tiga pertanyaan utama. Pertama, bagaimana Syaharuddin Alrif memaknai perubahan perannya dari pemimpin politik dalam kontestasi Pilkada menjadi pemimpin publik dalam penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Sidrap.
Kedua, bagaimana proses transformasi tersebut berlangsung melalui interaksi dengan birokrasi dan berbagai pemangku kepentingan. Ketiga, bagaimana para aktor yang terlibat memaknai orientasi kepemimpinan publik, tata kelola pemerintahan, dan nilai publik yang dibangun Syaharuddin Alrif.
Aswagino menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif untuk memahami pengalaman dan pemaknaan aktor terhadap perubahan kepemimpinan tersebut.
Ia menegaskan penelitian ini tidak bertujuan memberikan penilaian bahwa kepemimpinan politik lebih baik atau lebih buruk dibandingkan kepemimpinan publik.
"Penelitian ini bukan untuk melahirkan justifikasi bahwa kepemimpinan politik lebih baik daripada kepemimpinan publik, ataupun sebaliknya. Kita ingin melihat bagaimana titik temu atau zona integrasi antara gaya kepemimpinan politik dengan gaya kepemimpinan publik," ungkapnya.
Menurut Aswagino, titik temu antara kedua karakter kepemimpinan tersebut menjadi salah satu aspek penting yang ingin digali melalui penelitian.
"Yang ingin kita kaji adalah bagaimana mencari zona integrasi antara gaya kepemimpinan politik dan gaya kepemimpinan publik. Di mana titik temunya, kira-kira di situ yang ingin kita kaji," sambungnya.
Ia berharap penelitian tersebut dapat memberikan refleksi mengenai pengelolaan hubungan antara pemimpin dengan berbagai pihak setelah memperoleh mandat elektoral serta bagaimana tanggung jawab kepada seluruh masyarakat dijalankan.
Sementara itu, dosen pembimbing Assoc. Prof. Dr. Ir. H.M. Rais Rahmat Razak, M.Si., memberikan sejumlah catatan dan masukan terhadap proposal tesis yang dipresentasikan Aswagino.
Ia meminta berbagai masukan dari pembimbing dan penguji segera ditindaklanjuti dan diperbaiki sebagai persiapan untuk melanjutkan penelitian ke tahap berikutnya.



