SIDRAP,LINTASNEWS7.COM—Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) mengevaluasi pelaksanaan program magang internasional mahasiswa ke Taiwan. Evaluasi dilakukan untuk memastikan kegiatan magang mahasiswa tetap relevan dengan pembelajaran yang diperoleh di kampus.
Rapat evaluasi digelar di Gedung Rektorat UMS Rappang lantai 2, Sabtu (3/10/2026). Pertemuan tersebut diikuti koordinator program magang ke Taiwan serta ketua tujuh program studi di lingkungan UMS Rappang.
Ketujuh prodi yang terlibat yakni Pendidikan Vokasional Seni Kuliner, Pendidikan Vokasional Teknik Pertanian, Pendidikan Bahasa Inggris, Bisnis Digital, Kewirausahaan, Peternakan, dan Agribisnis.
Wakil Rektor I Bidang Akademik UMS Rappang, Dr. Ir. H. M. Rais Rahmat Razak, M.Si., yang memimpin rapat mengatakan program magang internasional tersebut telah dicanangkan sejak 2025 dan kini memasuki tahun kedua pelaksanaannya.
"Awalnya kita hanya mengirim mahasiswa vokasi kuliner. Sekarang ini sudah berkembang, ada Vokasi Kuliner, Vokasi Pertanian, Kewirausahaan, Bisnis Digital, Agribisnis, Ilmu Peternakan, dan program studi lainnya," kata Dr. Rais usai rapat.
Menurutnya, jumlah mahasiswa yang mengikuti program tersebut terus berkembang. Salah satu yang cukup banyak saat ini berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.
"Bahasa Inggris sekarang di sana ada 18 mahasiswa dan ini sedang dipersiapkan lagi. InsyaAllah tahun ini hampir semua prodi nanti kita akan berangkatkan," ujarnya.
Dr. Rais menjelaskan evaluasi dilakukan untuk memastikan mahasiswa tidak sekadar bekerja selama berada di Taiwan, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kompetensi akademiknya.
Karena itu, UMS Rappang akan melakukan sinkronisasi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) setiap mata kuliah dengan proses dan output pembelajaran selama mahasiswa menjalani magang di Taiwan.
"Kita memastikan semua prodi melakukan sinkronisasi RPS per mata kuliah dengan output dan proses pembelajaran di tempat magang. Jadi mahasiswa yang belajar dan magang di luar negeri itu betul-betul relevan dengan pembelajaran yang dilakukan di kampus," jelasnya.
Ia menyebut sejumlah mitra di Taiwan juga membuka kesempatan bagi mahasiswa semester tertentu untuk mengikuti program magang. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong program magang internasional UMS Rappang terus berkembang.
"Mahasiswa itu bagaimana bisa memahami pembelajaran di luar kampus. Memang itu yang berjalan sekarang. Pak Rektor juga sudah melakukan kunjungan ke sana dan memang betul-betul mahasiswa kita selain bekerja juga belajar," katanya.
Selain mengevaluasi pelaksanaan program, UMS Rappang juga akan menyiapkan modul pembekalan bagi mahasiswa yang akan berangkat ke Taiwan.
Pembekalan tersebut nantinya tidak hanya berkaitan dengan kompetensi akademik, tetapi juga mencakup budaya, kedisiplinan, bahasa, serta berbagai hal yang perlu diketahui mahasiswa selama berada di luar negeri.
"Dalam waktu dekat ini kita akan membuat modul untuk proses pembekalan. Mahasiswa yang akan berangkat akan kita bekali dulu, terutama dalam hal budaya negara di sana," ungkap Rais.
Menurutnya, pemahaman terhadap budaya dan kedisiplinan menjadi hal penting karena mahasiswa akan berinteraksi langsung dengan lingkungan kerja dan masyarakat di Taiwan.
UMS Rappang masih merancang pola pembekalan tersebut, termasuk menentukan durasi pelaksanaannya. Pembekalan dapat dilakukan selama tiga, lima, hingga tujuh hari sebelum mahasiswa diberangkatkan.
"Kita sedang merancang modul untuk pembekalan. Apakah tiga hari, lima hari, atau tujuh hari, kita akan mempersiapkannya sebelum mahasiswa berangkat," jelasnya.
Dr. Rais mengatakan hasil evaluasi selama dua tahun terakhir menunjukkan mahasiswa yang mengikuti program magang ke Taiwan memperoleh sejumlah manfaat, baik dari sisi pengalaman maupun ekonomi.
"Alhamdulillah, mahasiswa kita yang berangkat ke sana memberikan efek positif, termasuk buat keluarga. Secara ekonomi mereka juga mendapatkan. Jadi istilahnya ilmunya dapat, pengalamannya dapat, duitnya dapat," tuturnya.
Namun, katanya, sejumlah aspek tetap perlu dibenahi agar pelaksanaan program ke depan semakin tertata. Salah satunya terkait dokumen keberangkatan dan administrasi imigrasi.
"Ini akan kita benahi, akan kita perbaiki SOP-nya, terutama pada saat sebelum berangkat. Yang paling penting itu dokumen-dokumennya, dokumen imigrasinya harus jelas," tegasnya.
Selain SOP keberangkatan, sistem monitoring mahasiswa juga akan diperkuat. Selama ini monitoring lebih banyak dilakukan oleh masing-masing program studi.
Ke depan, kampus akan menyiapkan mekanisme monitoring yang lebih terintegrasi sehingga perkembangan mahasiswa selama menjalani magang di Taiwan dapat dipantau secara lebih terarah.
"Kegiatan monitoring sekarang ini memang masing-masing prodi melakukan monitoring sendiri-sendiri, tapi ini akan kita perbaiki. Nanti akan ada monitoring dari kampus," katanya.
Dr. Rais berharap pembenahan sistem pembekalan, sinkronisasi pembelajaran, SOP, dan monitoring tersebut dapat membuat program magang internasional UMS Rappang semakin terarah dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi mahasiswa.
"Kita berharap ini nanti akan lebih baik, lebih rapi dan betul-betul berdampak buat kampus, mahasiswa sendiri dan keluarganya. Juga berdampak pada bagaimana kewirausahaan dan minat digital entrepreneurship yang selalu kita dorong kepada mahasiswa UMS Rappang," pungkasnya.



